Profil Cak Nun dan 4 Sosok yang Membentuk Karakternya

Cak Nun dikenal sebagai seorang budayawan, sastrawan, sampai tokoh intelektual Islam serta sering memberi kajian soal. Ia merupakan pendiri pengajian Maiyah. Dalam menulis sastra, Cak Nun tetap mendambakan karya berikut merdeka tanpa unsur-unsur kepentingan. Kecuali untuk kemanusiaan. Seperti dikutip dari web site Institutional Digital Repository (IDR) Perpustakaan UIN Antasari Banjarmasin.

Awal pergelutan Cak Nun di bidang sastra terjadi terhadap th. 1970an. Ia menulis cerpen, naskah drama, puisi, lagu dan semacamnya. Sebagian besar karya Cak Nun parlay ditulis di jaman Orde Baru. Termasuk sekumpulan esai di dalam buku Secangkir Kopi Jon Pakir yang ditulis 17 Juni 1987 sampai 22 Juli 1988.

Cak Nun dulu menjadi kecewa selagi banyak tokoh agama yang berebut kursi kekuasaan politik. Kekecewaan itu melahirkan pengajian Maiyah sebagai protes dan keprihatinannya di dalam beragam masalah sosial, politik serta ketidakadilan di jaman Orde Baru. Bagi Cak Nun, Maiyah adalah wadah bagi seluruh umat manusia supaya mampu lebih mengerti pluralisme. Sehingga mampu saling menjunjung agama orang lain.

Jemaah pengajian Maiyah berbeda-beda. Ada yang telah menjadi bagian dari Maiyah, tersedia pula pengunjung yang menjadi pemikirannya cocok dengan cara pandang Maiyah. Untuk diketahui, sampai selagi ini tersedia puluhan simpul Maiyah di Tanah Air. Seperti Kenduri Cinta di Jakarta, Mocopat Syafaat di Yogyakarta dan Padhangmbulan di Jombang.

Profil dan Biodata Cak Nun

  • Nama lahir: Muhammad Ainun Nadjib
  • Nama yang lebih dikenal: Emha Ainun Nadjib
  • Panggilan akrab: Cak Nun, Mbah Nun
  • Tempat lahir: Jombang, Jawa Timur
  • Tanggal lahir: 27 Mei 1953
  • Orang tua: H. A. Lathif dan Chalimah
  • Istri: Novia Kolopaking
  • Anak: Sabrang Mowo Damar Panuluh, Aqiela Fadia Haya, Anayallah Rampak Mayesha, Jembar Tahta Aunillah, dan Ainayya Al-Fatihah

Kata Emha di dalam nama Cak Nun berasal dari awal kepenyairannya. Awalnya ia memakai nama MH Ainun Nadjib. Kemudian sekian lama ejaannya beralih menjadi Emha Ainun Nadjib.

Sederet Sosok yang Membentuk Karakter Cak Nun

1. H. A. Lathif dan Chalimah

Cak Nun punya papa dan ibu yang terpandang. Di jaman kecil, Cak Nun menyaksikan orang-orang desa singgah ke rumahnya dengan beragam masalah. Keteladanan papa dan ibu merupakan cermin yang membentuk Cak Nun. Ibunya menopang warga desa sampai menjajakan barang-barang yang tersedia di tempat tinggal seperti sepeda motor, televisi, mebel dan lainnya.

Itu yang membentuk kesadaran dan kepedulian sosial Cak Nun di dalam berpikir. Menurutnya menopang sesama manusia dari kemiskinan serta berguna sebagai manusia secara utuh, adalah kunci di dalam ajaran Islam. Cak Nun tetap mengingat sama surah Ali Imran ayat 95 yang telah ditransfer ibunya, serta mengerti bahwa ayat berikut adalah benih awal perjalanan hidupnya. Berikut lafaz ayat tersebut:

قُلْ صَدَقَ اللّٰهُ ۗ فَاتَّبِعُوْا مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًاۗ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

Artinya: Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Maha benar Allah (dalam firman-Nya)’. Maka, ikutilah agama Ibrahim yang hanif dan dia tidaklah juga orang-orang musyrik.

2. Cak Fuad

Lulus sekolah dasar, Cak Nun melanjutkan pendidikan ke Pondok Modern Gontor, Ponorogo. Namun ia tidak sampai lulus di Ponpes tersebut. Ia lalu masuk SMP dan SMA di Yogyakarta. Sebab kakak sulungnya, Cak Fuad sedang kuliah di kota tersebut. Cak Nun lalu menjadi menulis, baik esai, cerpen, dan artikel gara-gara perintah Cak Fuad. Cak Nun juga menjadi kerap menulis puisi.

Di segi lain, Cak Nun kerap membolos sekolah. Sebab, ia kerap begadang di Malioboro. Ia bahkan sempat bertengkar dengan sebagian guru supaya tidak mendambakan lagi masuk sekolah SMA Muhammadiyah I Yogyakarta. Beberapa hari kemudian, sore menjelang magrib, Cak Fuad menasihatinya untuk sekolah lagi. “Nun, mbok sekali ini saja jangan keluar dari sekolah. Demi Ibu dan Ayah,” kata Cak Fuad.

Cak Nun menjadi tergugah gara-gara tentang dengan hati kedua orang tua. Setelah salat magrib, ia segera menuju tempat tinggal wakil kepala sekolah untuk berharap maaf dan izin diperkenankan sekolah lagi. Menurut Cak Nun, Cak Fuad adalah orang yang tenang dan tidak dulu marah selama membimbing. Seandainya bukan Cak Fuad, ia mengakui tidak dapat mampu meningkatkan kreativitas sastra sampai selagi ini.

3. Umbu Landu Paranggi

Cak Nun hanya empat bulan kuliah di Universitas Gajah Mada. Ia menjadi berlainan dengan dunia akademik. Ia lebih menentukan belajar kehidupan di Malioboro Yogyakarta antara 1970-1975. Cak Nun berhimpun dengan group penulis muda Persada Studi Klub (PSK). Lalu belajar sastra dengan seorang yang ia hormati bernama Umbu Landu Paranggi. Guru yang dikenal sebagai sufi misterius, dan banyak memberi dampak di dalam hidup Cak Nun.

Di samping mendalami sastra, Cak Nun juga berbaur dengan beragam bidang agama, seni, pendidikan, politik dan ekonomi supaya mampu lebih berkembang. Pergelutannya dengan dunia sastra dan seni di bawah bimbingan Umbu, melahirkan potensi Cak Nun sebagai penulis sampai eksistensi dirinya dianggap oleh masyarakat.

Sosok Umbu bagi Cak Nun adalah seorang guru tadabur sekaligus pencambuk punggung kehidupannya. Sehingga ia menemukan puisi sebagai ujung tadabur yang dinamakan ‘kehidupan puisi’. Secara garis besar, pembawaan Cak Nun tidak terlepas dari peran kedua orang tua, kakak sulung, dan guru di Malioboro. Cara pandangnya meluas dengan bergelut di alam bebas dengan guru yang terlampau ia hormati tersebut.

By admin4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *